jual peredam suara ruangan

PEREDAM SUARA VS PENGHALANG SUARA
 20131107_224645_zps774489f5Adjective ( kata sifat ) = Kedap suara, yang tak tembus suara, tahan bunyi.

Verb ( kata kerja ) = Menjadikan tahan bunyi, menjadikan tahan suara.

Jadi tidak ada satu makna pun di dalam kata soundproof yang menyatakan peredam suara. di dalam bahasa Inggris, sistem yang digunakan untuk mengurangi transmisi suara biasa disebut noise barrier ( kata benda : yang artinya penghalang suara ). Maksud arti dari peredam suara yang sesungguhnya di dalam bahasa Inggris adalah Sound Absorption yang bisa diartikan penyerap suara. Jika kita mengharapkan suara di dalam ruangan memiliki kualitas suara yang baik maka tepat menggunakan kata peredam suara.Bahan peredam suara yang berfungsi untuk menyerap suara adalah bahan yang memiliki pori-pori terbuka atau pun berserat, bahan peredam suara yang bersifat menyerap suara hanya salah satu material saja yang bisa mengendalikan akustik ruang, bukan satu-satunya. Bahan peredam suara yang memiliki sifat menyerap suara berfungsi menyerap energi suara dari medium udara menjadi energi panas yang diakibatkan oleh friksi antara bahan peredam suara tersebut dengan energi suara.

Pembahasan mengenai judul peredam suara vs penghalang suara adalah hal yang sangat menarik di mana banyak orang yang salah paham mengenai peredam suara dan penghalang suara. Artikel ini akan membuat batasan yang jelas antara peredam suara dan penghalang suara. Seringkali kita menggunakan kata soundproof atau peredam suara dengan maksud mengurangi transmisi ( perpindahan dari satu area ke area yang lain ) suara namun yang dilakukan adalah menyerap suara. Jika kita merujuk pada bahasa Inggris, kata soundproof memiliki arti :

Kami memberi perbedaan yang jelas di mana penggunaan kata peredam suara dan penghalang suarayang tepat. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan di dalam memperlakukan ruangan anda.

 

A. NOISE CONTROL ( Mengendalikan Kebisingan )

Di dalam tindakan pengendalian kebisingan ada beberapa prinsip yang perlu diketahui. Pada artikel ini saya akan fokus untuk membahas mengenai masalah pengendalian kebisingan yang muncul di dalam bidang arsitektural akustik. Perambatan suara dapat melalui 2 medium yaitu medium udara ( airborne ) dan medium padat ( structureborne ). Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan untuk mengendalikan kebisingan, yaitu :

a. Rencanakan penempatan ruangan di area yang sunyi, hal ini akan membuat anda terhindar dari pengeluaran biaya yang besar untuk pembuatan noise barrier. Ini merupakan tindakan preventif.

b. Mengurangi volume suara dari ruangan di mana sumber suara tersebut berada. Hal ini bisa dilakukan jika memang memungkinkan. Metode ini mungkin bisa dilakukan, bisa juga tidak. Misalnya, jika suara yang mengganggu berasal dari stereo sistem, maka sangat mungkin volume suara dapat dikecilkan tapi jika kebisingan jalan raya dan bunyi pesawat cara ini tidak mungkin untuk dilakukan.

c. Membuat dinding penghalang ( noise barrier ) antara sumber kebisingan dengan area atau ruangan yang tidak mau terganggu. Meskipun cara ini merupakan alternatif penyelesaian yang rumit dan mahal tapi ini cara yang biasa digunakan. Sebuah dinding penghalang dapat mengurangi kebisingan suara. Pembuatan noise barrier dapat diaplikasikan pada dinding, plafond, dan lantai.

d. Mempertimbangkan perambatan suara melalui udara ( airborne ) dan struktur ( structureborne ).Memiliki pemahaman yang benar dan tepat mengenai perambatan suara adalah hal yang penting. Bila kita mengerti mana yang perambatan melalui udara dan mana perambatan yang melalui struktur maka kita tahu metode apa yang seharusnya digunakan.

Kami akan mencoba membahas konsep dasar mengenai pembuatan noise barrier. Membangun noise barrier bukan plug and play maksudnya adalah bukan berarti anda meletakkan suatu material insulasi / bahan peredam suara maka masalah kebisingan anda selesai.

Ada 5 konsep dasar pembuatan noise barrier :

1. Mass ( Massa )

Jika memiliki massa yang besar maka diperlukan energi yang besar untuk menggerakan dinding penghalang. Sebuah dinding penghalang yang memiliki massa lebih besar jika ditabrak oleh gelombang suara maka gelombang suara cenderung memantulkan kembali lebih banyak energi suara dibandingkan energi yang lebih kecil ke dalam ruangan, ini terjadi karena memiliki inersia ( kecenderungan semua benda fisik untuk menolak perubahan terhadap keadaan geraknya. Secara numerik, ini diwakili oleh massa benda tersebut ). Setiap penambahan dua kali massa akan meningkatkan kemampuan isolasi suara sebesar 6 dB, ini kita kenal sebagai Mass Law ( Hukum Massa ). Seperti yang kami jelaskan di atas bahwa kebisingan yang dihadapi merupakan suara yang kompleks. metode isolasi suara dibagi menjadi dua berdasarkan rentang frekuensinya, yaitu :

a. Pengisolasian suara frekuensi tinggi, ini relatif lebih mudah untuk ditangani.

b. Pengisolasian suara frekuensi rendah, mengisolasi suara pada frekuensi rendah lebih sulit dicapai dibandingkan dengan frekuensi tinggi

2. Rigidity ( Tingkat kekakuan )

Poin kedua yang tidak kalah penting adalah mengenai rigidity ( tingkat kekakuan ). Sekalipun memiliki massa yang cukup baik namun memiliki rigidity yang rendah maka noise barrier tidak akan optimal, karenanoise barrier akan bergetar sesuai frekuensi modalnya yang memiliki kemungkinan dapat membuat struktur ikut bergetar akibat resonansi. Begitu semua noise barrier ikut beresonansi, permukaan yang ikut bergerak bertindak seperti diafragma dan kembali mereproduksi energi suara yang kemudian diteruskan keluar ruangan. Pengisolasian suara tergantung bebasnya noise barrier dari resonansi suara. Jika dinding penghalang memiliki tingkat kekakuan yang tinggi maka dinding penghalang tersebut tidak akan bergetar, getaran terjadi karena adanya pergerakan.

3. Damping ( Kelembaman = sifat materi yg menentang atau menghambat perubahan momentum atau keadaan gerak benda bersangkutan; inersia )

Damping memiliki pengaruh yang sangat besar pada struktur apapun untuk mereduksi getaran maupun isolasi suara. Damping material mampu menyerap gelombang yang merambat melalui struktur dengan cara mengkonversi energi getaran menjadi energi panas. Dengan meletakkan damping material pada salah satu bagian noise barrier dapat memberikan pengurangan kebisingan suara yang significant.

4. Decoupling ( Pemutus Rambatan )

Dengan membuat decoupling kita bisa menambah kualitas noise barrier yang kita bangun. Fungsi daridecoupling adalah memutus getaran yang dapat merambat keluar yang ditimbulkan akibat rambatan suara melalui struktur noise barrier. Ada beberapa metode pembuatan decoupling :

4.1. Dynamic Decoupling ( Pemutus Rambatan Dinamis )
Artinya sistem dynamic decoupling bersifat dinamis ketika menerima stimulus suara atau dapat dikatakan aktif. Contoh dari dynamic decoupling adalah resilient channel.

Cara kerjanya, saat suara menabrak permukaan gypsum maka getaran yang ditimbulkan, ketika akan diteruskan menuju struktur rangka, pada saat itu pegas yang terdapat pada sistem resilient channel tersebut berespon terhadap getaran yang kemudian diredam sehingga getaran tersebut tidak diteruskan

4.2. Passive Decoupling ( Pemutus Rambatan Pasif )
Artinya sistem Passive decoupling ini ketika tidak menerima atau menerima stimulus tidak berespon apapun. Contoh prinsip dari passive decoupling adalah mencegah struktur noise barrier menempel pada struktur yang sudah ada ( existing ) sehingga memutus jalur rambatan yang memungkinkan timbulnya getaran. Misalnya membuat rangka dinding partisi yang terpisah dengan struktur bangunan yang sudah ada. metode ini mencegah rambatan getaran menuju struktur yang sudah ada.

Mana yang lebih baik antara dynamic decoupling atau passive decoupling? Tergantung, tergantung dari budget anda dan infrastruktur yang ada.

5. Porous Material ( Material Berpori )

Tidak asing bagi anda ketika mendengar material berpori, pikiran anda akan langsung memikirkan sejenisbahan peredam suara seperti rockwool, glasswool, busa telor, busa peredam suara, cellulose fibre, Green Wool. Namun pada artikel ini saya tidak akan membahas mana yang lebih baik. Keberadaan porous material juga memiliki andil di dalam noise control system. Namun porous material memiliki keterbatasan dalam menyerap suara. Tidak semua frekuensi mampu diserap apalagi dihalangi oleh porous materialmaka dari itu seperti yang telah dikatakan, bahwa kita membangun sebuah sistem dan bukan hanya meletakkan material maka masalah kebisingan selesai.

Dengan meletakkan porous material diantara kedua dinding ( dinding existing dan noise barrier ) makaporous material ini mampu mengurangi suara kurang lebih 15dBA, prinsipnya adalah mengurangi energi suara yang timbul akibat resonansi diantara kedua dinding tersebut ( Existing dan Noise barrier ). Dalam hal ini, penggunaan porous material yang memiliki density tinggi tidak significant ( bukan berarti nilaidensity tidak perlu dipertimbangkan ), yang perlu dipertimbangkan adalah ketebalannya ( akan dibahas pada artikel lainnya ). Ketebalan dari porous material akan mempengaruhi resistivitas dan resistansi aliran udara yang berimbas pada meningkatnya impedansi akustik. Artinya ketika nilai impedansi akustik tinggi maka hambatan perjalanan suara pun meningkat, sehingga akan menyebabkan kehilangan energi suara. Energi suara yang mengalami friksi akibat gesekan yang terjadi dikonversi menjadi energi panas.

6. Airtight Construction ( Konstruksi yang kedap udara )

Konstruksi yang tidak ada celah sama sekali. Prinsipnya sederhana di mana udara lewat maka suara pun akan lewat. Seringkali kontraktor atau pekerja melupakan detail-detail seperti ini. Pada gambar perencanaan membuat noise barrier yang memiliki nilai STC 54 namun setelah pekerjaan selesai dan dilakukan pengukuran hasilnya nilai STC 34. Salah satu contoh sederhana celah-celah kecil antara dinding partisi dengan plat lantai seringkali diabaikan. Sebuah celah kecil seukuran 15mm dibagian bawah dinding partisi sepanjang 3.3m, artinya luasan celah tersebut setara dengan 49,5 cm2 atau setara dengan sebuah lubang dengan ukuran 5cm x 10cm. Setelah melihat perhitungan di atas, mungkin anda akan melihat bahwa ini masalah yang serius.

Salah satu titik lemah lagi yaitu inbow doos untuk power outlet yang ditanam ke dalam dinding partisi, jika sambungan antara inbow doos dengan partisi gypsum tidak benar maka suara dapat lolos melalui celah-celah kecil tersebut. Kemudian pertemuan gypsum antar sisi juga perlu diperhatikan.

Detail-detail kecil yang sederhana terkadang dilupakan di dalam membangun noise barrier yang baik padahal jika diabaikan akan menimbulkan masalah yang serius, selain membuang waktu untuk memperbaikinya, juga akan membuang anggaran yang sudah anda siapkan di awal.

 

B. ACOUSTIC CONTROL ( Mengendalikan Akustika )

Suara yang kita dengar di dalam ruang terdiri dari suara langsung ( direct sound ) dan suara tidak langsung ( indirect sound ). Suara yang terdengar di sekitar adalah kombinasi dari suara langsung dari sumber atau sumber-sumber lain dan refleksi langsung dari permukaan atau benda-benda disekitar sumber suara yang sampai ke telinga pendengar. Misalnya, suara yang terdengar di dalam ruang, suara yang terdengar oleh telinga berasal dari suara langsung maupun pantulan dari langit-langit, dinding, dan lantai ( suara tidak langsung ). Cara kita mengolah suara adalah kunci dalam menentukan kualitas akustik. Inilah yang dimaksud acoustic control.
Oleh karena itu treatment akustik sangat penting untuk bagaimana merekayasa refleksi yang mempengaruhi cara penyebaran, pemantulan, dan penyerapan suara yang pada akhirnya dapat didengar dengan baik.

Cara treatment akustik setiap ruangan berbeda-beda, tidak bisa disamakan setiap ruangan baik secara kualitas maupun kuantitas.
Kami membagi 2 jenis ruangan berdasarkan sumber suaranya :

1. Sound Production Room
Ruangan ini tidak menggunakan loudspeaker untuk mendistribusikan suara ke pendengar. Sumber suara dipantulkan dan disebar ke pendengar dengan arah dan sudut yang tepat sehingga memberikan tingkat kejelasan suara yang tinggi. Contoh ruang sound production adalah : Gedung konser musik klasik, theatre, gedung opera,dll.

Pada ruangan sound production yang besar, panel treatment akustik yang paling utama adalah panel reflektor dan panel diffuser. Time arrival, direction, temporal density, early reflection, decay time, dan indikator lainnya menentukan kualitas suara yang didengar.

2. Sound Reproduction Room
Ruang reproduction menggunakan loudspeaker sebagai sound reinforcement. Sehingga pertimbangan treatment akustiknya berbeda dengan ruang sound production. Contoh ruang sound reproduction adalah :studio rekaman, home theatre, ruang meeting, ruang pertemuan, dll.

Pada ruangan sound production yang memegang peranan penting adalah panel absorber dan panel diffuserpanel reflektor hanya memegang peranan sedikit. Panel absorber dan panel diffuser digunakan untuk mengendalikan kolorasi suara, mengatur early reflection dan frekuensi modal yang berkaitan denganroom modes ruangan. Treatment akustik ini mampu mereproduksi suara se-natural mungkin.

Jadi dapat dilihat secara jelas penggunaan panel-panel akustik yang sesuai dengan kebutuhan ruangan. Dengan demikian kita mengerti apa yang harus dilakukan untuk kebutuhan ruangan kita.

Melalui penjelasan ini diharapkan kita mampu membedakan dengan benar antara peredam suara dengan penghalang suara. di mana salah pemahaman dapat berakibat fatal pada ruangan yang akan dibangun.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s